Breaking

Jumat, 11 Mei 2018

Ingin Lebih Dihormati, Kenakanlah Barang Bermerek



Anda ingin lebih dihormati? Berbusana lah yang baik. Namun tak hanya itu, merek busana yang dikenakan seseorang ternyata berpengaruh terhadap perlakuan orang lain terhadapnya. 


Salah satu adegan ikonik pada film Pretty Woman, misalnya, karakter Vivian Ward (diperankan Julia Robert) diusir dari sebuah butik elite. 

Namun, perlakuan berbeda diterimanya saat kembali ke sana menggunakan pakaian mahal dan tas rancangan desainer ternama. 

Tak hanya sekadar adegan dalam film, namun pengalaman kita sendiri dan sejumlah studi menguatkan fenomena tersebut. 

Memang, seseorang akan diperlakukan berbeda sesuai dengan apa yang dikenakannya. Namun, kabar baiknya adalah kita tak perlu menggunakan pakaian termahal hanya untuk mendapatkan persepsi positif tersebut. 

Contoh lainnya, jika kita sedang berjalan kemudian ada orang asing mendekati kita untuk menanyakan arah. 
Apakah kita akan memberi perhatian yang sama kepada orang yang memakai baju rapi dan bermerek, dibanding orang yang memakai baju lusuh dan tampak murahan? 

Secara refleks, mungkin kita akan lebih terbuka dan membantu orang asing yang memakai pakaian rapi. Orang-orang dengan tampilan rapi juga cenderung tak dianggap sebagai ancaman, kebalikan dari orang asing yang tampak lusuh dan tak meyakinkan.


Photo ilustrasi

Riset menunjukkan bahwa kita akan cenderung membantu orang asing yang memakai pakaian bermerek. 
Riset oleh Nelissen dan Meijers yang berjudul "Keuntungan Sosial dari Label Mewah Terhadap Status Kemakmuran" (2011), menemukan bahwa tampilan mewah secara cepat mampu memengaruhi interaksi sosial. 

Para peneliti itu memulai dengan mencari tahu keinginan orang-orang untuk memiliki pakaian bermerek dan produk mewah lainnya untuk meningkatkan derajat status, dan kemudian merancang eksperimen. 

Satu eksperimen soal persepsi status melibatkan partisipan yang mengenakan kaos Lacoste atau Tommy Hilfiger, dibandingkan dengan mereka yang mengenakan kaos tanpa bermerek. 
Mereka yang mengenakan pakaian bermerek dipandang lebih makmur dan memiliki status sosial lebih tinggi. 
Namun, tak ada perbedaan pandangan dalam hal kebaikan, kepercayaan dan tingkat menarik seseorang. 

Eksperimen lainnya bekerjasama dengan seseorang. Dalam satu kondisi, orang tersebut akan mengenakan sweater hijau dengan logo Tommy Hilfiger. 

Pada kondisi lainnya, ia mengenakan sweater identik namun tanpa logo Tommy Hilfiger. Para pengunjung toko akan diminta menjawab beberapa pertanyaan darinya. 

Hasilnya, sebanyak 52,2 persen pengunjung toko lebih terbuka dalam menjawab pertanyaan dari orang itu saat mengenakan pakaian bermerek Tommy Hilfiger. Sementara, hanya 13,6 persen yang terbuka menjawab pertanyaan dari orang yang memakai sweater tanpa merek. 

Ekspermimen-eksperimen itu membuktikan bahwa orang-orang cenderung berlaku lebih baik dan sopan kepada mereka yang berpenampilan rapi dan mengenakan pakaian bermerek. 
Kekuatan sosial Pakaian juga diasosiasikan sebagai status sosial. 
Dalam konteks negosiasi, studi oleh Kraus dan Mendes (2014) mendemonstrasikan bahwa pria dengan pakaian bisnis akan mendapatkan persepsi positif yang dominan. 

Mereka misalnya, akan lebih dipandang kuat saat melakukan negosiasi dibandingkan dengan mereka yang hanya mengenakan celana kain biasa. Partisipan cenderung meneliti simbol kelas atas dari seseorang dari pakaian tersebut.

Sementara, studi oleh Hudders, "The Rival Wears Prada (2014)" menemukan bahwa di antara wanita, konsumsi barang-barang bermerek dilakukan bukan untuk menarik perhatian lawan jenis melainkan untuk berkompetisi mendapatkan lawan jenis. 

Temuan ini berkebalikan dengan pria, dimana pria berpenampilan menarik untuk menarik perhatian lawan jenis. 
Studi juga menemukan bahwa penampilan menarik dengan barang-barang merek juga mampu membuat wanita lain menghormati mereka. 
Wanita yang menggunakan barang mewah cenderung dipandang lebih muda, ambisius, seksi serta lebih menarik. 

Namun, di sisi yang sama juga dipandang kurang setia, kurang pintar, dan tidak dewasa. 
Pada intinya, tak dapat dipungkiri bahwa perlakuan kita terhadap seseorang terpengaruh dari cara mereka berpenampilan. 
Namun, penting pula untuk selalu diingat bahwa setiap orang bisa saja berpenampilan menarik sehingga kita harus bisa melihat pribadi seseorang di balik tampilannya.