Breaking

Sabtu, 03 Desember 2016

4 Kesalahan Paling Umum yang Dilakukan Orang Tua Saat Mendisiplinkan Anak

Jakarta - Orang tua berhak mendisiplinkan anak jika dirasa perlu. Meski begitu, mendisiplinkan anak harus dilakukan dengan baik agar anak bisa mengambil manfaat dan bukan hanya sekadar hukuman.

Jika tak dilakukan dengan baik dan tepat, anak malah tidak mendapat manfaat. Salah-salah, bentuk pendisiplinan yang dilakukan orang tua malah menjadi trauma bagi anak.


Foto: thinkstock

DetikHealth pun merangkum beberapa kesalahan yang umum dilakukan orang tua saat mendisiplinkan anak. Apa saja? 

Berikut 4 di antaranya:

1. Marah

Mendisiplinkan anak dilakukan untuk membuat anak menyesali kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi di masa depan. Sayangnya sering kali orang tua merasa kesal dan marah ketika mendisiplinkan anak.

Marah berbeda dengan tegas. Orang tua bisa memberi anak pesan dengan tegas sebagai bentuk mendisiplinkan. Namun jika dilakukan sembari marah, anak malah akan merasa takut kepada orang tua, bukan menyesali kesalahannya.

2. Tidak konsisten

Konsistensi penting dilakukan saat mendisiplinkan anak. Jika anak pernah dihukum karena memukul temannya misalnya, orang tua harus menghukum anak lagi jika kesalahan yang sama diulangi.

Orang tua yang tidak konsisten akan dianggap tidak serius oleh anak. Akibatnya efektivitas hukuman pun menjadi berkurang.

3. Terlalu banyak bicara

Boleh-boleh saja memberi penjelasan anak soal kesalahan yang sudah dilakukannya, dan mengapa ia harus dihukum. Meski begitu, penjelasan harus diberikan saat waktu yang tepat.

Memberi penjelasan kepada anak secara bertubi-tubi tanpa ada waktu untuk membuatnya berpikir dan menyesali perbutannya tidak akan membuat anak belajar.

4. Beri hukuman fisik

Dalam mendisiplinkan anak, ketegasan selama tidak memakai kekerasan tetap diperlukan. Termasuk ketegasan di mana ketika anak melanggar aturan, maka ia mendapat hukuman yang bukan merupakan hukuman fisik, tetapi konsekuensi.

Misalnya anak merusak mainan temannya, konsekuensinya bisa dengan anak diminta memberikan mainan yang ia punya sebagai bentuk permintaan maaf.
Sumber: health.detik.com